Gangguan pendengaran akibat kerja (Occupational Hearing Loss) selama ini lebih sering dikaitkan dengan pajanan kebisingan tinggi. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa pajanan bahan kimia tertentu (ototoxic chemicals) juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya gangguan pendengaran, bahkan pada tingkat kebisingan yang relatif rendah.
Menurut NIOSH (2026), sekitar 22 juta pekerja (13% tenaga kerja sipil di Amerika Serikat) diperkirakan terpajan bahan kimia yang bersifat ototoksik, dan sekitar 12 juta pekerja mengalami pajanan gabungan antara kebisingan dan bahan kimia. Kombinasi tersebut meningkatkan risiko gangguan pendengaran secara signifikan dibandingkan jika hanya terpajan salah satunya. Kombinasi ini seringkali mengakibatkan gangguan pendengaran yang dapat bersifat sementara atau permanen, yang tergantung pada tingkat kebisingan, dosis bahan kimia, dan durasi pajanan.
Baca selengkapnya mengenai apa itu Ototoxic Chemicals, Industri apa saja yang berisiko, serta cara pencegahannya di newsletter ini.
Apa itu Ototoxic Chemicals?

Ototoxic chemicals adalah bahan kimia yang dapat merusak sistem pendengaran maupun keseimbangan. Bahan-bahan ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui inhalasi, kontak kulit, atau tertelan. Dampak yang ditimbulkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti frekuensi, dosis, dan durasi pajanan, adanya pajanan bahaya lain di tempat kerja (misalnya kebisingan), serta faktor individu seperti usia atau status merokok.
Efek pajanan bahan kimia ototoksik dapat bersifat sementara maupun permanen, mulai dari penurunan sensitivitas pendengaran hingga peningkatan ambang dengar (hearing threshold shift). Beberapa bahan kimia tidak hanya merusak telinga bagian dalam, tetapi juga memengaruhi jalur saraf pendengaran sehingga pekerja mengalami kesulitan mendengar, memahami, dan membedakan suara. Kondisi ini dapat menghambat komunikasi serta meningkatkan risiko kecelakaan kerja akibat tidak terdengarnya instruksi atau sinyal peringatan.
Pajanan kebisingan dan bahan kimia ototoksik secara bersamaan dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran dibandingkan dengan pajanan salah satu faktor saja. Pada beberapa bahan kimia, interaksi tersebut bahkan bersifat sinergis sehingga memperparah kerusakan pendengaran. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pelarut organik tertentu dapat memperburuk gangguan pendengaran akibat kebisingan, bahkan ketika tingkat kebisingan masih berada di bawah Permissible Exposure Limit (PEL) (OSHA, 2016).

Sebagai contoh, seorang pekerja yang terpajan toluene atau styrene di area produksi dapat mengalami gangguan pendengaran lebih cepat dibandingkan pekerja lain dengan tingkat kebisingan yang sama tetapi tanpa pajanan bahan kimia tersebut.
Yang perlu menjadi perhatian adalah gangguan pendengaran akibat pajanan bahan kimia sering kali “tersembunyi” di balik gangguan pendengaran akibat kebisingan. Kemiripan gejala membuat banyak kasus tidak diidentifikasi sebagai dampak dari pajanan bahan kimia, sehingga faktor risiko ini kerap terabaikan dalam upaya pencegahan di tempat kerja.
|
Kelas Zat |
Bahan kimia |
| Obat-obatan *Toksisitas pada dosis terapeutik terbatas |
|
| Pelarut |
|
| Asfiksian |
|
| Nitril |
|
| Logam dan Senyawa |
|
*Khusus obat-obatan menjadi perhatian pada fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, otoksisitas bahan kimia lain ditemukan pada pestisida, kadmium, arsenik, bromat, hidrokarbon terhalogenasi, insektisida, senyawa alkil, dan mangan.
Industri dengan Potensi Pajanan Bahan Kimia Ototoksik
Pajanan bahan kimia ototoksik dapat ditemukan di berbagai sektor industri. NIOSH (2026) menyebutkan industri dengan persentase pekerja yang terpajan bahan kimia ototoksik tertinggi antara lain:
- Pertambangan (49%)
- Ekstraksi Minyak dan Gas (Oil and Gas Extraction/OGE) (44%)
- Konstruksi (30%)
- Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Perburuan (Agriculture, Forestry, Fishing, and Hunting/AFFH) (29%)
- Transportasi (24%)
- Manufaktur (24%) : Industri logam fabrikasi (fabricated metal products); mesin; produk kulit dan produk turunannya; tekstil dan pakaian; pengolahan minyak bumi; kertas (termasuk percetakan); bahan kimia, termasuk cat dan pelapis (paints and coatings); plastic dan karet; furnitur dan produk terkait; industri peralatan transportasi, seperti pembuatan kapal dan perahu; industri peralatan, perlengkapan, dan komponen listrik, termasuk pembuatan baterai; manufaktur sel surya.
Meskipun demikian, potensi pajanan tidak hanya ditentukan oleh jenis industrinya, tetapi juga oleh jenis pekerjaan, proses kerja, bahan kimia yang digunakan, serta efektivitas pengendalian pajanan di tempat kerja. Oleh karena itu, identifikasi bahaya dan penilaian pajanan tetap perlu dilakukan untuk menentukan risiko ototoksisitas pada setiap lingkungan kerja.
Aktivitas pekerjaan dengan pajanan bahan kimia ototoksik antara lain, tapi tidak terbatas pada:

Bagaimana Cara Pencegahannya?

Langkah-langkah yang dapat diterapkan antara lain:
- Eliminasi dan Substitusi
- Mengidentifikasi keberadaan bahan kimia ototoksik di tempat kerja melalui Safety Data Sheet (SDS) dan inventarisasi bahan kimia sebagai dasar penentuan langkah pengendalian.
- Mengganti bahan kimia ototoksik dengan bahan yang memiliki tingkat bahaya lebih rendah atau tidak bersifat ototoksik (non-ototoxic chemicals).
- Rekayasa Teknik (Engineering Controls)
- Mengendalikan pajanan kebisingan dan bahan kimia secara bersamaan, misalnya dengan memodifikasi, mengisolasi, atau menutup sumber kebisingan maupun jalur rambat suara serta memasang atau mengoptimalkan Local Exhaust Ventilation (LEV) untuk mengurangi konsentrasi bahan kimia di udara.
- Melakukan inspeksi dan pemeliharaan mesin/peralatan secara berkala untuk mencegah kebocoran bahan kimia.
- Pengendalian Administratif
- Menyesuaikan jadwal kerja atau menerapkan rotasi pekerja untuk mengurangi jumlah pekerja yang terpajan dan durasi pajanan.
- Menyusun jadwal inspeksi dan pemeliharaan peralatan secara berkala serta memastikan pelaksanaannya.
- Mengembangkan Program Konservasi Pendengaran (Hearing Conservation Program) yang mempertimbangkan pajanan kebisingan dan bahan kimia ototoksik.
- Melakukan pemantauan pajanan serta pemeriksaan audiometri secara berkala, terutama bagi pekerja dengan pajanan kombinasi.
- Memberikan pelatihan mengenai bahaya bahan kimia ototoksik, cara penanganan yang aman.
- Alat Pelindung Diri (APD)
- Menggunakan APD sesuai hasil penilaian risiko, seperti respirator, sarung tangan tahan bahan kimia, pelindung lengan, celemek, serta pelindung mata.
- Memastikan pelindung pendengaran dan respirator dipilih sesuai jenis bahaya, digunakan dengan benar, serta dilakukan fit testing dan pelatihan penggunaannya bila diperlukan.
Lindungi pekerja dari risiko gangguan pendengaran yang tidak hanya disebabkan oleh kebisingan, tetapi juga pajanan bahan kimia ototoksik. EASindo siap membantu perusahaan Anda melalui Health Risk Assessment (HRA) dan Industrial Hygiene Monitoring untuk mengidentifikasi serta mengendalikan risiko kesehatan di tempat kerja. Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.
Referensi
- NIOSH. 2026. Chemicals and Hearing Loss: A Connection.
- NIOSH. 2024. Chemical-Induced Hearing Loss.
- OSHA. 2018. Preventing Hearing Loss Caused by Chemical (Ototoxicity) and Noise Exposure.

