Your reliable partner to protect your most valuable assets.

Tantangan dan Risiko Keamanan Pangan (Food Safety)

Keamanan pangan (food safety) menjadi salah satu isu yang penting bagi Perusahaan yang menyediakan makanan bagi tenaga kerjanya. Jika terjadi food borne illness maka banyak tenaga kerja yang terkena dampak sehingga dapat mengganggu bahkan menghentikan kegiatan operasional Perusahaan.

Dalam penerapan keamanan pangan, Perusahaan juga berkewajiban untuk mematuhi berbagai peraturan dan perundang-undangan dan standar yang mengatur tentang keamanan pangan, antara lain:

  • Permenkes No. 2 Tahun 2023 Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan
  • SNI CAC/RCP 1 Tahun 2011 Rekomendasi Nasional Kode Praktis – Prinsip Umum Higiene Pangan
  • SNI ISO 22000 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keamanan Pangan
  • SNI 01-4852-1998 tentang Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP) serta Pedoman Penerapannya

Permasalahan food safety  yang seringkali muncul terutama di industri hulu migas sebagai berikut:

LOKASI

  • Lokasi kerja yang jauh dari pusat distribusi makanan dapat menyebabkan keterlambatan pengiriman dan masalah rantai dingin.
  • Kondisi cuaca yang ekstrem, seperti panas atau hujan, dapat memengaruhi kualitas makanan dan meningkatkan risiko kontaminasi.
  • Lingkungan kerja yang kotor atau tidak terawat dapat menjadi tempat yang ideal untuk pertumbuhan bakteri dan kontaminan lainnya.
  • Rantai pasok makanan yang panjang dan kompleks dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan kerusakan makanan.
  • Kualitas bahan baku yang buruk dapat menyebabkan makanan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi.

 

KETERSEDIAAN FASILITAS

  • Fasilitas penyimpanan makanan yang terbatas atau tidak memadai, seperti kulkas atau freezer yang tidak berfungsi dengan baik, dapat menyebabkan makanan cepat rusak.
  • Kurangnya fasilitas untuk menyiapkan makanan dengan aman, seperti tempat cuci tangan yang bersih, peralatan yang tidak terawat, atau area persiapan yang tidak teratur, dapat meningkatkan risiko kontaminasi.
  • Pengangkutan makanan yang tidak tepat, seperti dengan wadah yang tidak aman atau tidak terkontrol suhu, dapat menyebabkan makanan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi.

 

RISIKO KONTAMINASI

  • Kontaminasi fisik seperti kotoran, serangga, atau benda asing lainnya yang dapat masuk ke dalam makanan.
  • Kontaminasi kimia seperti sisa-sisa bahan kimia yang digunakan di area kerja, seperti pelarut atau pestisida, yang dapat mencemari makanan.
  • Kontaminasi biologi seperti bakteri, virus, atau parasit yang dapat menyebabkan penyakit makanan, terutama jika makanan tidak disimpan dan disiapkan dengan benar.

 

10 Penyebab Utama dari Keracunan Makanan

 

  1. Makanan olahan/kalengan yang terkontaminasi
  2. Penanganan makanan yang terinfeksi
  3. Kontaminasi silang
  4. Pencairan (thawing) yang tidak memadai
  5. Pemanasan ulang yang tidak memadai
  6. Pemasakan yang kurang matang (undercooking)
  7. Persiapan terlalu lama dan penyimpanan pada suhu ruang
  8. Makanan mentah yang dikonsumsi
  9. Penyimpanan hangat yang tidak tepat
  10. Pendinginan yang tidak memadai

 

Mengatasi Tantangan Keamanan Pangan

 

  • Mengembangkan Program Keamanan Pangan yang Kuat

Terapkan program keamanan pangan komprehensif yang mencakup semua aspek penanganan, penyimpanan, dan penyiapan makanan.

  • Pastikan Infrastruktur yang Memadai

Berinvestasilah pada fasilitas pendinginan, sanitasi, dan wadah penyimpanan yang tepat untuk memastikan keamanan pangan

  • Sediakan Pelatihan dan Pendidikan

Latih petugas penanganan makanan tentang praktik keamanan pangan yang tepat, termasuk teknik kebersihan, penyimpanan, dan penyiapan.

  • Inspeksi dan Audit Rutin

Lakukan inspeksi dan audit rutin untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.

  • Promosikan Kebiasaan Makan Sehat

Bantu pekerja untuk membuat pilihan makanan sehat dan menyediakan akses ke makanan bergizi.

  • Tetapkan Saluran Komunikasi yang Jelas

Pastikan saluran komunikasi yang jelas untuk melaporkan masalah dan kekhawatiran keamanan pangan.

 

Food safety merupakan hal yang kompleks, tidak ada satu solusi yang dapat menyelesaikan semua masalah. Banyak hal detil teknis yang melibatkan banyak pihak. Di konteks Perusahaan, dari mulai perancangan kontrak, kebijakan food safety dan HACCP, desain dan fasilitas yang memadai, pemenuhan peraturan perundangan, pengendalian suhu dan waktu, status kesehatan dan personal hyginene, program kebersihan, program pelatihan, serta kejelasan pengawasan dan program assurance baik dari pihak penyedia jasaboga maupun Perusahaan.

Kasus keracunan pada program MBG belakangan ini, harus dijadikan reminder untuk mengevaluasi kembali program Food Safety di Perusahaan. Coba evaluasi kepatuhan terhadap Permenkes 02/2023 yang mengatur secara detail aspek food safety. Apakah sudah dikembangkan Food Safety Management System yang tidak hanya mengandalkan HACCP juga harus memastikan PRPs* dan OPRPs** terpenuhi. Kemudian bagaimana peran praktisi Higiene Industri? Jangan sampai terjebak dengan rutinitas inspeksi dapur saja.

*PRPs: Pre-Requisite Programs

**OPRPs: Operational Pre-Requisite Programs

 

Download PDF

Scroll to Top