Industri minyak dan gas merupakan sektor yang vital bagi perekonomian global, namun juga diakui sebagai salah satu industri yang memiliki risiko tinggi terkait keselamatan dan kesehatan kerja. Salah satu ancaman signifikan dalam industri ini adalah pajanan hidrogen sulfida (H2S), gas beracun yang sering ditemukan di berbagai tahap operasi minyak dan gas. Pajanan gas ini berdampak serius terhadap kesehatan.
Hidrogen sulfida, (H2S), adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung berapi dan gas alam.
Pajanan H2S memiliki berbagai dampak kesehatan yang serius. Pada konsentrasi rendah, H2S dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, serta gejala seperti sakit kepala, pusing, dan mual. Pajanan dalam jangka panjang meskipun pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat dan paru-paru. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, pajanan H2S dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, kerusakan otak, dan bahkan kematian dalam hitungan menit.
Berikut merupakan Tabel Konsentrasi dan Dampak dari gas H2S terhadap kesehatan

Sumber : Shinta, Herlianty.2013..Jurnal Teknik Lingkungan Volume 19 Nomor 2, Oktober 2013 (Hal 196-204)
Peraturan Perundang-Undangan Terkait Pajanan H2S
- UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah dasar hukum utama yang mengatur keselamatan dan kesehatan kerja. UU ini mengharuskan perusahaan untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi pekerja, termasuk perlindungan terhadap bahaya H2S.
- Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja menetapkan nilai ambang batas untuk faktor fisika dan kimia, termasuk H2S . Nilai Ambang Batas (NAB) untuk H₂S yaitu 10 ppm (parts per million). Peraturan ini juga mengatur kewajiban perusahaan untuk melakukan pemantauan lingkungan kerja secara berkala.
Sumber Pajanan H2S di Industri Minyak dan Gas
Pengeboran

- Formasi Bawah Tanah: H2S sering ditemukan dalam formasi geologi tertentu yang kaya akan sulfur. Selama proses pengeboran, ketika bor menembus formasi ini, H2S dapat dilepaskan ke permukaan.
- Lumpur Pengeboran: Lumpur yang digunakan untuk pengeboran juga bisa mengandung H2S, yang dapat menguap ke udara dan menimbulkan risiko bagi pekerja di sekitar rig pengeboran.
Produksi

- Sumur Produksi: H2S dapat dilepaskan selama ekstraksi minyak dan gas dari sumur. Sumur produksi yang mengandung minyak dan gas sour memerlukan penanganan khusus untuk mengelola risiko H2S.
- Separasi dan Pemrosesan: Dalam fasilitas pemrosesan, minyak mentah dan gas dipisahkan dari air dan gas lainnya. H2S yang terkandung dalam campuran ini dapat terlepas selama proses separasi
Pemrosesan

- Unit Pemisahan Gas: Di unit pemisahan gas, H2S sering dipisahkan dari gas alam sebelum gas dialirkan ke jaringan pipa. Proses ini bisa menghasilkan gas H2S yang perlu ditangani dengan hati-hati.
- Unit Pemurnian: Proses pemurnian minyak dan gas juga dapat menghasilkan H2S sebagai produk sampingan. H2S yang terbentuk harus dikendalikan dan diolah untuk mencegah pajanan.
Transportasi dan Penyimpangan

- Pipa dan Tangki Penyimpanan: Selama penyimpanan dan transportasi minyak dan gas yang mengandung H2S, gas ini dapat terkumpul di tangki penyimpanan atau dilepaskan melalui kebocoran pipa.
- Kompresi dan Pengangkutan: Proses kompresi gas alam yang mengandung H2S juga dapat menjadi sumber pajanan, terutama jika terjadi kebocoran pada peralatan kompresor atau saat gas dipindahkan.
Strategi Pencegahan Pajanan H2S
1. Pengelolaan Risiko
- Penilaian risiko dengan melakukan penilaian risiko secara rutin untuk mengidentifikasi dan mengelola potensi bahaya H2S di tempat kerja. Penilaian ini harus mencakup evaluasi sumber-sumber potensi pajanan, analisis aliran kerja, dan identifikasi kelompok pekerja yang paling berisiko.
- Pengendalian administratif dengan menerapkan pengendalian administratif seperti rotasi kerja dan pembatasan waktu pajanan untuk mengurangi risiko. Rotasi kerja dapat membantu mengurangi waktu pajanan individu terhadap H2S, sementara pembatasan waktu pajanan membantu memastikan bahwa pekerja tidak terpajan dalam waktu yang terlalu lama.
- Dokumentasi dan pelaporan dengan membuat dan simpan catatan dokumentasi semua langkah pencegahan dan insiden yang terkait dengan H2S. Pelaporan ini membantu dalam evaluasi berkelanjutan dan perbaikan strategi pencegahan.
2. Ventilasi yang Efektif
- Memasang sistem ventilasi mekanis yang memadai untuk memastikan aliran udara yang baik dan mencegah akumulasi H2S di ruang tertutup atau area rendah. Sistem ventilasi ini harus dirancang untuk mengeluarkan udara tercemar dan memasok udara bersih.
- Merancang fasilitas dengan mempertimbangkan aliran udara alami dan ventilasi yang cukup untuk mencegah penumpukan gas. Penempatan ventilasi dan bukaan harus dirancang untuk memaksimalkan aliran udara dan meminimalkan zona mati di mana gas dapat terkumpul.
- Pemantauan secara rutin memantau dan menguji sistem ventilasi untuk memastikan fungsionalitas dan efektivitasnya dalam mengendalikan konsentrasi H2S.
3. Alat Pelindung Diri
- Penyediaan respirator dengan filter/cartridge H2S bagi pekerja yang bekerja di area dengan risiko pajanan tinggi. Jenis respirator yang digunakan harus sesuai dengan tingkat konsentrasi H2S yang dihadapi.
- Penggunakan pakaian pelindung yang sesuai untuk melindungi kulit dari kontak dengan H2S. Pakaian ini harus tahan terhadap gas dan mampu melindungi pekerja dalam situasi darurat.
4. Prosedur Darurat dan Latihan
- Rencana tanggap darurat dengan mengembangkan dan mengimplementasikan rencana tanggap darurat yang komprehensif untuk mengatasi kebocoran atau paparan H2S. Rencana ini harus mencakup prosedur evakuasi, pertolongan pertama, dan tindakan yang harus diambil untuk mengendalikan situasi darurat.
- Latihan dengan mengadakan tindakan latihan evakuasi dan penggunaan APD secara rutin untuk memastikan kesiapan pekerja dalam menghadapi situasi darurat.
- Peralatan darurat dengan menyediakan peralatan darurat seperti alat pernapasan tambahan, masker, dan peralatan deteksi portabel di lokasi yang mudah dijangkau.
5. Pendeteksian dan Pemantauan
- Penggunaan detektor gas portabel dan stasioner untuk memantau konsentrasi H2S di lingkungan kerja. Detektor portabel dapat digunakan oleh pekerja yang bergerak di sekitar lokasi, sementara detektor stasioner dipasang di area dengan risiko tinggi untuk pemantauan terus-menerus.
- Kalibrasi dan Pemeliharaan yaitu dengan memastikan alat deteksi gas dikalibrasi dan dipelihara secara berkala untuk memastikan akurasi dan fungsionalitasnya.
- Pemantauan Area Strategis yaitu dengan pemasangan detektor gas di lokasi-lokasi strategis, seperti sumur pengeboran, tangki penyimpanan, ruang tertutup, dan dekat peralatan pemrosesan.
KESIMPULAN
Pencegahan pajanan H2S di industri minyak dan gas memerlukan pendekatan yang komprehensif dan sistematis, melibatkan deteksi dan pemantauan gas, ventilasi yang efektif, penggunaan alat pelindung diri, prosedur darurat dan latihan, edukasi dan pelatihan, serta pengelolaan risiko. Dengan menerapkan strategi-strategi ini, perusahaan dapat melindungi pekerja dan lingkungan dari bahaya H2S, serta memastikan operasi berjalan dengan aman dan efisien.

